Nama : Emy pramitha
Nim : 06061009001
Fak/Prodi : Fkip/P.Biologi
Ruang kuliah : MPK 3 (hari jum’at, pukul 14:20-16:10)
Tugas ilmu sosial budaya dasar
Soal :
Uraikan berbagai dampak perubahan kebudayaan dari lokal menuju global terhadap kebudayaan Indonesia !
Carilah sebuah kasus yang berkaitan dengan persoalan individu dalam kelompok sosial ditempat tertentu !
Jawab :
Dampak perubahan kebudayaan dari lokal menuju global
terhadap kebudayaan Indonesia
A. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan merupakan keseluruhan sistim gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam masyarakat, adapun kebudayaan-kebudayaan itu yaitu kebudayaan barat, timur, nasional dan daerah.
B.Pengertian Kebudayaan Lokal
Kebudayaan lokal adalah kebudayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok atau bangsa dalam hal ini adalah indonesia yang merupakan tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam masyarakat.
Kebudayaan Nasional
Masyarakat Indonesia dan komplek kebudayaannya masing-masing adalah plural (jamak) dan heterogen. Artinya masing-masing sub kelompok masyarakat itu beserta kebudayaannya bisa sungguh-sungguh berbeda satu dari yang lainnya. (Kusumohamidjojo, 2000). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia dicerminkan oleh banyaknya suku bangsa yang bernaung di dalamnya. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan Nasional merupakan sesuatu kebudayaan yang baru dengan mengambil banyak unsur-unsur dari kebudayaan lain. Salah satunya adalah kebudayaan Barat, seperti : teknologi, orientasi ekonomi, keterampilan berorganisasi dan pengetahuan.
Namun terdapat juga pendapat-pendapat lain dari para ahli yaitu menurut Sanusi Pane, kebudayaan Nasional Indonesia sebagai kebudayaan Timur harus mementingkan kerohanian, perasaan dan gotong royong. Pendapat ini sejalan pula dengan pendapat Poerbatjaraka dan Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa dalam membangun kebudayaan baru harus memperhatikan sejarah dari kebudayaan dari bangsa sendiri sehingga ini merupakan puncak dari kebudayaan-kebudayaan daerah. Dengan demikian kebudayaan Indonesia benar-benar berakar pada kebudayaan suku-suku bangsa Indonesia. Sedangkan menurut Herkovits kebudayaan Nasional Indonesia adalah produk dari suatu bangsa dalam ruang lingkup ruang dan waktu. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, telah jelas bahwa kebudayaan Nasional dari sisi material adalah semua produk yang dihasilkan bangsa Indonesia baik yang dikembangkan di Indonesia, yang tumbuh dan berkembang sejak Indonesia merdeka (1945) atau sesudah Sumpah Pemuda (1982) hingga saat ini, apakah ini diserap dari kebudayaan etnik. Maupun kebudayaan asing baik melalui proses difusi, akulturasi yang disepakati menjadi bagian dari milik Nasional di dalam negeri kesatuan RI.
Kebudayaan nasional mempunyai dua fungsi yaitu : sebagai suatu sistem gagasan dan perlambang yang memberikan identitas kepada warga negara Indonesia serta sebagai sesuatu sistem gagasan dan perlambang yang dapat dipakai oleh semua warga negara Indonesia yang berbhineka untuk saling berkomunikasi dan memperkuat solidaritas. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu memperhatikan asas-asas pokok yang terkandung dalam Pancasila.
Kebudayaan daerah
Kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang di bentuk dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia yang merupakan bagian dari integral dari pada kebudayaan Indonesia nantinya secara keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan daerah banyak dipengaruhi oleh sejarah dan kebiasaan atau adat masa lalu, dari proses belajar manusia di Indonesia, seperti kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikah penduduk lokapemerintahan Daerah / otonomi Daerah. Ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam Undang-undang tersebut mengarah kepada pemberdayaan masyarakat lokal dalam segala aspeknya, termasuk bidang kebudayaan. Dengan kata lain kebudayaan daerah diposisikan sebagai sumber daya bagi pembangunan yang harus dipedomani dan sekaligus diberdayakan, sehingga masyarakat lokal berkembang di atas basis kebudayaannya sendiri (Atmadja, 2000)
C. Pengertian Kebudayaan Global
Globalisasi oleh sebagian masyarakat sering diartikan sebagai gagasan tentang penyeragaman dan standarisasi dunia melalui teknologi, perdagangan dan sinkronisasi budaya dengan budaya yang berasal dari Barat. Selain itu, globalisasi juga sering dihubungkan dengan sifat-sifat modern, dan sifat-sifat modern selama ini selalu dihubungkan dengan budaya Barat. Oleh karena itu, budaya yang berasal dari Barat selalu dianggap sebagai ciri dari masyarakat modern dan global.
Kebudayaan barat yang selama ini dikatakan oleh para ahli dan pakar sesungguhnya adalah kebudayaan Eropa. Bukan kebudayaan masyarakat yang tinggal di sebelah barat garis penaggalan waktu Greenwich (GMT). Kebudayaan ini telah diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini. Kebudayaan ini berbeda dengan kebudayaan timur, dimana mereka yang dibesarkan dengan kebudayaan barat akan membina kesadarannya dengan pemahaman secara ilmu pengetahuan dan filsafat. Dengan melakukan berbagai diskusi dan debat, mereka berusaha mengungkapkan makna dan arti yang sebenarnya dari sebuah kebenaran. Melalui proses belajar dan mengajar yang berawal dari diskusi dan perdebatan, maka para master dari kebudayaan barat dituntut juga untuk menjadi seorang yang ahli ceramah dan berdiskusi. Sehingga para murid akan melihat tingkat pencapaian gurunya dari kehebatan sang guru berceramah dan berdiskusi. Di kebudayaan barat ada istilah American Dream, atau "mimpi orang Amerika" dalam bahasa Indonesia. American Dream adalah sebuah kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di Amerika Serikat. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memperdulikan status sosial, seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah "kota di atas bukit" (atau city upon a hill"), "cahaya untuk negara-negara" ("a light unto the nations"),yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.
Namun sesuai dengan konsep rwa bhineda atau opsisi binary, dibalik berkah itu, kemultietnikan mengandung pula musibah, yakni kerawanan akan konflik. Mengingat kenyataan seperti itu, maka negara ini hanya bisa bertahan dalam persatuan jika segenap warga dan pemerintahnya memberikan tempat yang pantas pada keanekaragaman tersebut sambil menjalankan penyelenggaraan pemerintahan yang menghormati kemandirian daerah tetapi juga mengedepankan solidaritas untuk memajukan daerah-daerah di seluruh Indonesia.
D. Dampak Kebudayan Global Terhadap Budaya Lokal
Globalisasi sebagai suatu proses mendunia yang ditandai dengan semakin hilangnya batas-batas dunia, tidak lepas dari perkembangan pemikiran manusia. Perubahan dunia, termasuk masyarakat dan kebudayaannya, menurut Barbara Ward (1960) lebih banyak disebabkan oleh pemikiran dari pada gerakan demontrasi. Pemikiran manusia yang terus mengalir dan disertai dengan inovasi telah mampu merubah dunia dan peradaban manusia, seperti yang kita saksikan sekarang. Menurut Barbara Ward, ada lima pokok pikiran yang merubah dunia yaitu: Industrialisme, Kolonialisme, Komunisme, Nasionalisme, dan Internasionalisme.
Pengaruh Kebudayaan Barat terhadap kebudayaan Nasional
Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor kemajuan peradaban dunia sebagai indikasi kemajuan berfikir umat manusia, makanya tidak salah apabila disebut bahwa umat manusia dewasa ini telah diperhadapkan pada situasi yang serba maju, instant dan pola pemikiran yang kritis. Kemajuan peradaban itu banyak mengakibatkan perubahan di segala aspek kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bernegara maupun berbangsa.Banyak di antara masyarakat itu menerima perubahan peradaban itu sebagai sesuatu yang lumrah sebagai sebuah proses yang harus dijalani, dimaklumi dan kehadirannya senantiasa menimbulkan berbagai perubahan dalam praktiknya. Sehingga memaksa masyarakat budaya, mau tidak mau diperhadapkan pada situasi yang sulit antara menerima perubahan peradaban itu (karena tidak ingin dianggap kolot) atau menolak perubahan itu kendatipun dianggap primitif, konvensional dan ortodoks.
Perselisihan atau tepatnya perbedaan pemikiran seperti itu dapat muncul sebagai reaksi terhadap berbagai tindakan yang bagi sebagian orang bergerak seolah-olah meninggalkan kebudayaannya sedang sebagian orang ingin mempertahankannya sebagai sebuah warisan leluhur bersama (common heritage) yang wajib dijaga dan dilestarikan.
perubahan-perubahan kebudayaan Naional akibat adanya pengaruh dari kebudayaan Barat, salah satunya adalah :
1. Perubahan sosial
Tidak dapat disangsikan bahwa kemajuan pemikiran manusia yang senantiasa berupaya untuk menghasilkan hal-hal baru dalam hidupnya adalah hal wajar yang dilakukan sebagai makhluk yang berakal. Berangkat dari asumsi bahwa pemikiran manusia akan senantiasa merubah kondisi sosial, maka hal yang demikian itu dapat diterima secara mutlak.
Pada dasarnya perubahan itu dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup, peradaban (civilzation) dan kesempurnaan hidupnya yang meskipun pada dasarnya akan senantiasa juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi peradaban itu sendiri. Katakanlah, kebiasaan manusia mengkonsumsi (membeli) makanan yang serba instant, tanpa ada upaya untuk membuatnya, akan melemahkan dan memandulkan kreativitas. Belum lagi hal yang serupa itu diterima dan meresap pada diri anak-anak, maka seumur hidupnya akan menjadi pengkonsumsi utama tanpa adanya niat untuk mencoba membuatnya dengan keinginan sendiri. Alhasil, generasi yang muncul berikutnya adalah generasi yang nirkreativitas.
Perubahan sosial, baik yang direncanakan maupun yang tidak dapat dikategorikan ke dalam hal di atas yang pada intinya adalah pengupayaan ke arah yang lebih baik dengan mencoba mereduksi dampak negatif dari social change itu. Dengan begitu, perubahan yang sedang terjadi dan akan terjadi, maupun yang direncanakan ataupun tidak (kurang) direncanakan tidak akan mengalami benturan kebudayaan (peradaban) pada masyarakat.
2. Trend Global terhadap Nasional
Disamping perubahan sosial yang terjadi, suatu hal yang tak dapat dielak dan dipungkiri bahwa pola kehidupan manusia pada saat ini sudah diperhadapkan pada situasi yang ambigu. Menolak dan menerima perubahan sosial sebagai dampak kemajuan. Opsi untuk menolak dihantui oleh resistensi dari dalam diri pribadi dan lingkungan yang secara phisikologis akan turut mempengaruhi penolakan itu. Yaitu adanya ketakutan terhadap anggapan sebagai seseorang yang primitif, tradisional dan konvensional. Sementara untuk menerima perubahan itu juga menimbulkan benturan psikologis dimana seseorang pelaku itu dicap sebagai orang yang kurang (tidak) menghargai kebudayaannya.
Kondisi yang demikian itu adalah opsi yang begitu sulit untuk dapat diterima, paroksi psikologis menjadi hambatan utama antara opsi menerima dan menolak. Akan tetapi, kecenderungan yang terjadi adalah bahwa perubahan itu adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat dibatasi apalagi dikekang. Justru, kepiawaian kita dalam menerjemahkan perubahan itu ke dalam diri kita sendiri, meresap dalam diri kita, kemudian akan memancarkan aura perubahan terhadap sikap dan prilaku kita. Dengan begitu, apakah hal yang demikian itu juga disebut telah merubah kebudayaan? Tentu jawabnya adalah tidak. Perubahan yang terjadi dewasa ini adalah kewajiban yang harus diterima, dan oleh sebab itu maka yang terjadi di seputar perubahan itu adalah trend ataupun kecenderungan yang senantiasa dimaknai.
Tantangan yang justru dihadapi adalah sampai seberapa jauh kita mampu memadukan perubahan dengan kebudayaan itu? Namun demikian, maksud utamanya adalah bukan dengan menolak kebudayaan barat yang sedang mendunia. Di sini dibutuhkan pemahaman dan pengertian kita untuk menerjemahkan perubahan itu sehingga tidak menimbulkan distorsi bagi kepribadian dan kebudayaan yang menggejala. Kekuatannya justru terletak pada diri kita sendiri bahwa apa yang akan kita ambil dan maknai dari perubahan itu, dan seberapa mampukah kita menerjemahkannya ke dalam kebudayaan kita.
Apakah seorang Batak yang modern adalah orang yang tidak (lagi) menggunakan budaya Batak itu dalam kehidupannya sehari-hari? Apakah orang Batak akan dikenal sebagai orang yang tidak maju apabila atribut Habatahon masih menempel pada dirinya? Lantas bagaimana pula kebudayaan yang lahir akibat perpaduan dua unsur budaya suku yang berbeda akibat adanya kawin campur, misalnya orang Simalungun dengan Jawa? Keutamaan dari pola seperti ini adalah adanya pemerkayaan budaya lokal itu sendiri yakni pencapaian ke arah peradaban yang lebih sempurna. Anggapan itu dapat dimaknai sebagai dampak perubahan terutama dalam menghargai waktu, benda dan segala bentuk ragam unsur budaya. Atribut-atribut budaya nasional termasuk budaya Lokal/daerah seolah-olah terancam akibat budaya barat ( Global ) seperti masuknya berbagai komoditas global, pengaruh dan tindakan yang dipancarluaskan oleh berbagai media penyampai seperti TV dan media cetak lainnya. Akibatnya kita akan lebih menghargai semua itu dengan waktu dan dengan adanya tuntutan tugas yang mesti dilakukan. Keadaan ini justru akan merubah kita yang tanpa disengaja telah melahirkan berbagai interpretasi atas diri dan prilaku kita.
Dalam situasi dan kondisi dimana budaya Nasional dan lokal akan dipertaruhkan di tengah kancah kebudayaan Barat, sepertinya melahirkan kontroversi dan paradigma yang berbeda dalam memandang budaya barat itu. Sebahagian tidak menginginkan adanya perubahan dalam kebudayan Nasional dan tanpa disadari tindakan yang dilakukan telah merubah keaslian kebudayaan itu. Justru dengan begitu, kita dapat memaknai bahwa perubahan itu akan senantiasa terjadi dan tanpa kita sadari akan meresapi diri kita dan masuk ke dalam pola perilaku dan tindakan kita.
Jika kita cermati, budaya bangsa kita menampilkan wajah yang kurang baik. Budaya dan cara berpikir bangsa kita menurut beberapa ahli, justru menampilkan sosok pribadi yang kurang kondusif untuk menghadapi globalisasi. Menurut Mohctar Lubis, bangsa kita adalah hipokrit, menurut Koentjaraningrat bangsa kita bermental penerabas, sedangkan menurut Umar Kayam bangsa kita suka mengamuk. Selain itu, paradigma berpikir bangsa kita juga bersifat diagonalistik, yang selalu melihat perbedaan sebagai suatu dikotomi antara benar dan salah. Budaya dan cara berpikir yang demikian jelas mengindikasikan suatu kepribadian yang kurang sesuai dengan tuntutan budaya global yang lebih demokratis, transfaran, akuntambel, dan rasional.
kasus yang berkaitan dengan persoalan individu dalam
kelompok sosial ditempat tertentu
pada suatu daerah atau tempat kasus hamil diluar nikah :
Memperhatikan beberapa ibu tunggal yang harus menghidupi anaknya yang beberapa dari mereka adalah ibu kawan anak2 saya di sekolah, membuat saya berpikir dalam. Jenny (nama samaran) hamil saat dia masih SMA. Dia memutuskan untuk membesarkan anaknya sendiri sembari menjalani hidupnya yang sempat tertinggal. Sang bapak dari anaknya, meskipun cukup baik hubungannya dengan anaknya, tapi tidak mau berhubungan dengan si ibu & anak lebih dekat. Jenny mengikuti kelas malam untuk mengejar ketingalan SMAnya dan mendapatkan diploma SMA. Sementara itu dia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Saat dia bekerja dan bersekolah, ibunya yang menjaga putrinya. Enaknya di US, bagi mereka yang ketinggalan dalam hal sekolahnya ada program di bawah state yang dapat diikuti supaya mereka bisa menyelesaikan sekolah dan memperoleh diploma. Di beberapa adult education diadakan program GED atau persamaan sekolah. Di beberapa perguruan tinggi diadakan sekolah malam (night school disebutnya bukan program extension) dan banyak dari lulusannya mendapatkan pekerjaan yang baik. Mengenai penitipan anak terutama bagi wanita2 muda yang berusaha menyelesaikan sekolahnya sambil bekerja juga dimudahkan oleh pemerintah state. Program seperti Head Start memungkinkan mereka untuk menitipkan anak2 mereka tanpa bayar atau bayaran minimum.
Komentar :
Pada saat mencuat kasus pasangan muda MBA (Married by Accident), yang muncul terlebih dahulu bisa dipastikan adalah cemoohan, ejekan, mungkin juga makian. Dari sekian banyak kasus2 hamil sebelum nikah yang pernah saya perhatikan, dari mulai bisikan2, gunjingan sampai cercaan terbuka terlontar dari masyarakat. Tidaklah mengherankan di mana masyarakat merasa ada hal yang kurang selaras dengan kepercayaan mereka dan norma2 adat. Tidak di Indonesia, tidak di US, hal seputar kasus hamil sebelum nikah sebenarnya sama. Sekitar tahun 50-an, seorang wanita muda lajang yang memiliki anak di luar nikah akan dijadikan bulan2an oleh masyarakat sekitarnya. Kebanyakan dari mereka akhirnya memutuskan untuk melarikan diri sampai melahirkan. Atau bagi mereka yang sudah merasa putus asa, menggugurkan kandungan mereka, selain pilihan memberikan anaknya untuk diadopsi.
Perhatian yang timbul akibat kasus MBA sebetulnya masih salah tempat. Karena gembar-gembor dosa atau menyalahkan pihak orang tua bukanlah jawaban dari permasalahan yang timbul. Karena meskipun pasangan muda, terutama si wanitanya, ini bakal memiliki anak, mereka masih berhak mendapatkan pendidikan lebih lanjut. Demikian juga kesempatan untuk mendapatkan pelatihan bagaimana caranya merawat bayi dan anak, tentunya sangat berguna bagi mereka. Segi kesehatan juga harus sangat diperhatikan apalagi jika si wanitanya masih remaja belia. Kemungkinan besar bayi yang dilahirkan mengalami kekurangan atau cacat dapat terjadi, akibat usia ibu yang masih sangat muda. Dalam suatu masyarakat semestinya ada peran untuk membantu dan mengulurkan tangan bagi pasangan muda tersebut. Ya, memang mereka berbuat salah, tapi bukan berarti mereka harus disalahkan secara terus-menerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar