PENGARUH LIMBAH DETERJEN TERHADAP MORFOLOGI INSANG IKAN BETOK (ANABAS)
NAMA : Emy Pramitha
NIM : 06061009001
DOSEN PEMBIMBING : Dra. Lucia maria santoso, M.si.
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Seiring barkembangngya ilmu pengetahuan dan semakin meningkatnya kebutuhan manusiadalam memenuhi kebutuhannya, maka demi keefesienan sumber daya seperti waktu, mendorong manusia untuk menilik hal yang praktis dan ekonomis, demi meningkatkan pemenuhan kebutuhan tersebut manusia terutama dalam hal kegiatan rumah tangga dalam membersihkan baik pakaian, perabotan, dan lain-lainnya manusia menggunakan pembersih berupa deterjen dimana deterjen itu sendiri mengandung senyawa kimia yang sulit diuraikan oleh mikroorganisme. Saat ini penggunaan deterjen sebagai bahan pencuci alat-alat rumah tangga sudah sangat familiar dan meluas, pemakaian deterjen secara terus menerus dan setiap hari menyebabkan jumlah deterjen kelingkungan semakin banyak, yang pada akhirnya limbah deterjen tersebut akan kembali kelingkungan perairan.
Deterjen yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah jenis deterjen yang mengandung senyawa Alkyl Benzen Sulfonat (ABS) yang sekarang ini disinyalir sulit terdegradasi secara biologis, salah satu merek deterjen tersebut adalah Rinso anti noda, So-claen Antinoda dan deterjen-deterjen lainnya. Sebagai bahan pembersih deterjen mengandung surfaktan yang berfungsi dalam menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat menghilangkan lapisan lemak di air, maka dari itu surfaktan tersebut juga dapat melukai permukaan kulit ikan dan permukaan insang ikan yang sebagian besar mengandung lendir.
Lingkungan perairan yang tercemar limbah deterjen yang mengandung senyawa ABS dalam konsentrasi tinggi akan mengancam dan membahayakan kehidupan biota air terutama ikan dimana ikan itu sendiri akan dikonsumsi oleh manusia sehingga. Keberadaan deterjen dilingkungan perairan akan berinteraksi dengan komponen atau factor lain yaitu factor fisik dan kimiawi toksikan itu sendiri, sifat fisik kimia biologis lingkungan dan kecepatan masuknya toksikan itu kelingkungan. Biota air dapat mengalami efek negative toksikan (deterjen) baik secara fungsional maupun structural.
Pengujian tingkat toksisitas dapat dilakukan dengan cara kimia atau biologi, saat ini yang dianggap paling tepat untuk mengukur tingkat toksisitas adalah dengan mengukur derajat toksisitas melalui cara biologi (bioassay), dimana bahan pencemar yang berupa limbah (deterjen) diperlakukan terhadap hewan uji. Untuk mengetahui zat/ unsur pencemar penyebab terganggunya kehidupan biota dan efek yang ditimbulkannya terhadap biota dalam suatu perairan, perlu dilakukan suatu uji efek zat pencemar terhadap biota yang ada, yang bisa dilihat dari suatu hasil uji dalam bentuk LC50 suatu biota. Uji tersebut dikenal dengan uji toksisitas, baik uji toksisitas akut atau uji toksisitas kronis.
Salah satu komponen biota perairan adalah ikan, di Sumatera Selatan ikan betok merupakan salah satu ikan umum perairan terbuka yang memiliki nilai ekonomis dan ekologis tersendiri, maka dari itu ikan betok diambil sebagai hewan uji dalam penelitian ini.
1.2. Masalah
Deterjen mengandung surfaktan yang berperan dalam menurunkan tegangan permukaan sehingga berpotensi melarutkan lendir maka diduga berpengaruh terhadap morfologi insang, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah
sejauh mana efek limbah tersebut terhadap kerusakan morfologi insang ikan betok?
apakah pengaruh yang disebabkan limbah deterjen tersebut dapat kembali lagi seperti semula?
1.1 Tujuan
Mengetahui pengaruh limbah deterjen terhadap morfologi insang ikan betook (Anabas)
1.2 Manfaat
Manfaat yang diperoleh adalah dapat menginformasikan kepada masyarakat akan bahaya pemakaian deterjen secara berkala, serta dapat melestarikan populasi ikan betok agar tidak punah.
hahahahhahahhahaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
BalasHapus